Translate

Thursday, February 12, 2015

Books "SHATTERED"

Judul Asli : SHATTERED
[ book 3 of SLATED Trilogy ]
Copyright © 2014 by Teri Terry
Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Alih Bahasa : Wahyu Nugroho
Editor : Agatha Tristanti
Lay-out : Angga Gusniardi
Re-desain sampul : Yanyan Wijaya
Cetakan I : Januari 2015 ; 504 hlm ; ISBN 978-602-249-826-1
Harga Normal : Rp. 75.000,-
Rate : 4 of 5

Pemerintahan Britania Raya sedang dalam kehancuran akibat revolusi dan pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Para pelaku pemberontakan yang hampir sebagian besar adalah kaum remaja, menghadapi masa depan yang suram, terutama ketika mereka tertangkap dan dijebloskan dalam tahanan. Hal ini memunculkan sebuah gagasan untuk menyelamatkan kaum muda dari kerusakan lebih lanjut. Penawaran program ‘Penghapusan’ bagi mereka yang ingin melepas masa lalu dan menjalani suatu kehidupan yang sama sekali baru, nama, identitas, hingga keluarga baru tanpa ingatan akan masa lalu yang mengerikan. Program ini mendapat aneka reaksi, namun pada akhirnya suara mayoritas membawa pada kelanjutan program Penghapusan secara permanen dalam pemerintahan. Ditangani oleh para pengawas, kehidupan masyarakat serta ketenangan Britania Raya mulai kembali ... atau setidaknya demikian yang dipercayai oleh masyarakat umum dan dunia luar.



Aku adalah salah satu dari remaja yang menjalani Penghapusan. Namaku menjadi Kyla Davis dan putri bungsu keluarga Davis yang cukup dikenal, karena ibuku, Sandra Armstrong adalah putri Perdana Menteri Armstrong yang tewas bersama istri dalam kerusuhan bom oleh kaum pemberontak yang dikenal dengan TAP. Kehidupan berjalan dengan nyaman dan lancar, bahkan Amy – kakak angkatku yang juga menjalani program Penghapusan, sangat menyayangi diriku. Hingga aku berkenalan dengan Ben – cowok yang mampu mengguncang duniaku, dan kemudian memilih jalan yang merubah total masa depan dan kehidupan yang semestinya kujalani sesuai program pemerintah. Serangkaian peristiwa yang mengejutkan, menakutkan sekaligus membawa kengerian muncul silih berganti. Masa lalu yang seharusnya kulupakan, muncul satu demi satu bagaikan ‘gambaran’ yang kacau-balau di benakku.

Sosok-ku sebagai kanak-kanak sebagai Lucy Connor muncul, dan penyelidikan menunjukkan bahwa diriku dinyatakan ‘hilang’ oleh orang tua kandungku. Apakah berarti program Penghapusan tidak dilakukan dengan sukarela, jika diriku dinyatakan ‘hilang’ tanpa penjelasan oleh keluargaku ? Lalu mengapa diriku bisa terlibat sebagai anggota TAP dalam asuhan Nico – pria menakutkan yang juga melakukan program ‘cuci-otak’ hingga diriku berubah menjadi sosok bernama Rain ? Kenyataan dan fakta-fakta baru yang harus kuhadapi, kematian Ben yang ternyata selamat namun telah menjalani program Penghapusan, hingga rahasia yang disimpan oleh Dr. Lysander – dokter dari agen Pengawas yang justru ‘menyembunyikan’ kondisiku sebenarnya dari agen-agen pemerintah. Apa yang sebenarnya terjadi selama bertahun-tahun dalam kehidupannya ?

Kini diriku kembali melarikan diri dari Pengawas maupun TAP, karena kedua belah pihak sama-sama tidak kupercayai. Dibantu oleh DOH (Daftar Orang Hilang) – organisasi rahasia yang melacak, menemukan dan menyelamatkan anak-anak hilang di penjuru Britania, diriku harus menjalani kehidupan baru sebagai Riley Kain di kota Keswick – tempat dimana Stella Connor, ibu kandungku masih hidup dan mengelola Waterhouse Fall bagi remaja putri. Kuharap lembaran baru yang akan dimulai di Keswick memberikan penjelasan dan kelegaan bagi diriku. Sayangnya justru muncul hal-hal aneh yang memicu kenangan yang sama sekali berbeda, hal-hal yang tak mampu kupahami atau dijabarkan dengan gamblang. Apa yang terjadi jika masa lalu yang kupercayai sebagai Lucy Howarth / Connor ternyata juga semu – bahwa fakta dan kebenaran jauh lebih kelam daripada yang bisa kubayangkan ?

Buku terakhir trilogi Slated ini bisa dikatakan pamungkas yang sangat menarik sekaligus menakjubkan. Terus terang awalnya diriku agak skeptis dengan kisah distopia yang akhir-akhir ini marak di kalangan pembaca (maupun penulis) hingga nyaris kisah-kisahnya terjebak dalam konflik stereo-type yang bisa ditebak (dan nyaris membosankan). Melalui karakter utama, seorang gadis yang memiliki banyak ‘nama’ – pembaca dibawa menelusuri perjalanan hidupnya yang terdiri dari lapisan demi lapisan ‘kebohongan’ melalui rekayasa penciptaan identitas baru bagi siapa saja yang berminat, atau siapa saja yang dianggap sebagai penghalang dalam rencana besar oknum tertentu. Proses ‘cuci-otak’ yang dikenal melalui kisah-kisah tawanan perang dari kamp Hitler, hingga isu-isu penanganan mata-mata negara asing, sedikit banyak memnuhi benakku dalam menelaah kisah ini.

Hanya manusia yang memiliki tekad kuat dan disertai latihan keras, akhirnya bisa mendobrak tembok penghalang yang menutupi pintu ingatan masa lalu. Walau perjalanan proses tersebut tidak terlalu diungkapkan oleh sang penulis, karakter sosok utama yang akhirnya menggunakan nama Riley Kain ini terasa sangat kuat dari awal hingga akhir kisah. Sebagaimana sosok Tris dalam serial Divergent, atau Katnis dalam serial The Hunger Games, hingga Juliette dalam Shatter Me Trilogy ... tokoh utama kisah ini merupakan perpaduan unsur kekuatan mental sekaligus sisi emosi yang cukup rentan dalam menghadapi realita yang berubah-ubah sepanjang pencarian jati dirinya. Meski sosok pendamping yang tak kalah menarik juga muncul sepanjang kisahnya (ciri khas kisah distopia yang tidak bisa lepas dari dram romansa), perkembangan kekuatan karakter ‘female’ tetap terjalin semakin kuat dan tidak terjebak dalam drama yang berlarut-larut.

Jika ada sedikit kekurangan hanya pada detil-detil pada perubahan alur dan konflik yang tidak terlalu berpengaruh besar untuk menikmati kisah ini. Kehadiran karakter antagonis yang bermunculan (dan membuat surprise sepanjang kisah ini) anehnya justru membuat kenikmatan membaca semakin bertambah (^_^) bisa jadi karena alur yang cepat dan adegan-adegan yang agak mirip Hunger Games muncul membuat rasa kantuk hilang (bukan berarti diriku penggemar kisah kekerasan lho hahaha). Dari sebagian besar serial distopia yang kubaca (termasuk yang dalam daftar populer hingga favorit pembaca), rata-rata berakhir dengan ending yang bikin frustasi atau justru jengkel tidak keruan (dengan perkecualian seri Hunger Games, still my number uno most favorite), maka ending Trilogi Slated ini bisa kukatakan berakhir dengan ‘Sangat PAS’ dan cukup ‘memuaskan’ tanpa embel-embel ‘what if ...’ – so Teri Terry, I love you for making this closure so perfectly enjoyable (at least for myself hohoho).

[ more about the author & related works, just check at here : Teri Terry | on Goodreads | at Twitter ]

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan pesan dan komentar (no spam please), harap sabar jika tidak langsung muncul karena kolom ini menggunakan moderasi admin.
Thanks for visiting, your comment really appreciated \(^0^)/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...